Senin, 29 April 2013

Never Ending Netherland

Oleh : Hafiz Al Asad

Mencari kalimat yang pas untuk mengidentifikasi Holland alias negeri Belanda, memang bukan perkara sulit, ada banyak kata dan kalimat yang cocok untuk kita sematkan ke negeri empat musim ini seperti Tulip, kincir angin, “Surga Dunia” dimana marijuana dijual bebas dan Red Area “terawat” dengan baik, serta tentu saja Kecil-Kecil Cabe Rawit. Kenapa kecil-kecil cabe rawit? Karena negeri mungil imyut dan chibi-chibi ini tidak henti-hentinya membuat dunia terpana dengan segala bentuk kreativitas dan inovasi berkesinambungan yang bersemi dari segala lini dan sektor seperti pendidikan, dunia kedokteran serta teknologi. Salah satu diantaranya adalah Smart Highway.
credit to roosegaarde

Sebagaimana namanya, Smart Highway merupakan sebuah produk eco-friendly terbaru besutan Daan Roosegaarde, pendiri lab Studio Roosegaarde, yang akan ditempatkan di jalanan tol di kota-kota negeri tersebut serta akan menawarkan sensasi terbaru bagi pengguna jalan  tol seperti Smart Safe and Simplicity. Smart karena meski ia hanya sebuah produk, namun dapat mengumpulkan energy sendiri yang didapat dari sinar matahari lalu menyala saat malam hari. Safe karena ia dapat menunjukkan cuaca serta kondisi jalan melalui cahaya yang dipancarkannya di permukaan jalan dan secara otomatis akan memperingatkan pengendara untuk berhati-hati saat cuaca berada dibawah titik beku yang tentu sangat berguna untuk mengurangi tingkat kecelakaan. Serta Simplicity karena produk yang akan mulai dibangun pada pertengahan 2013 ini juga berfungsi untuk menarik biaya tol secara elektronik tanpa harus antre lagi di gardu pintu tol yang biasanya bikin jengkel seperti di negeri tercinta—atau malang—ini.
credit to roosegaarde
 
Tidak hanya berhenti disitu saja, beberapa designer yang juga turut ambil bagian dalam pembangunan proyek tersebut mengatakan akan terus meningkatkan kapasitas dan kapabilitasnya untuk menjadikan Smart Highway menjadi “Smarter Highway” melalui program inovasi tiada henti. Salah dua diantaranya adalah, pertama membuat lampu di atas jalanan tol yang dapat menyala secara otomatis saat ada kendaraan melintas, lalu secara otomatis pula, lampu tersebut akan mati saat tidak ada lalu lalang kendaraan. Hal serupa juga akan diterapkan pada lampu penanda di samping jalan yang mampu menyerap energy melalui hempasan angin yang didapat saat ada mobil melintas cepat. Terakhir adanya jalur prioritas yang dikhususkan bagi pengguna mobil elektronik. Bentuk magnetik yang berada di bawah jalan pada gilirannya dapat mentransfer energy kepada mobil yang melintas, sehingga pengguna mobil electric tidak lagi harus sibuk-sibuk dan susah-susah untuk mengecas dan mengecas lagi sebelum bepergian.
credit to roosegaarde

Duh, kalau sudah begini ceritanya, tidak mengherankan bukan jika kita menyebut negeri yang memiliki sejarah panjang dengan Indonesia ini dengan istilah “Never Ending Netherland”?. Lalu bagaimana dengan Indonesia? sepertinya kita harus menunggu beberapa tahun lagi—atau beberapa puluh tahun lagi—untuk dapat merasakan technology terbaru yang eco-friendly tersebut. 

Referensi

Sabtu, 09 Maret 2013

Jogja : Backpack Hemat Penguras Dompet




Mengisi liburan semester kali ini, pilihan saya jatuh ke Kota Gudeg, Jogjakarta. Alasannya simple, ‘ingin berwisata murah’, dari makanan, transportasi serta oleh-olehnya, lebih dari itu karena saya memiliki teman yang siap menampung saya selama berlibur. Tiket pulang pergi Bandung-Pekanbaru-Bandung dan Surabaya-Denpasar-Surabaya dari Airasia sengaja saya biarkan hangus karena alasan ingin mencari alternative liburan yang jauh lebih murah lagi.
Senin, 28 January 2013, saya akhirnya berangkat ke Jogja dengan menggunakan Kereta Ekonomi rute Pasar Senen – Lempuyangan dengan harga 35.000 saja—murah bukan?— dan sampai di Jogja keesokan harinya. Meski sendirian, namun saya cukup menikmati perjalanan tersebut, sebab setiap berhenti di stasiun tertentu, saya disuguhkan dengan arsitektur stasiun kereta yang cantik dan bernuansa eropa.
Sampai di Jogja, saya langsung disambut dengan atmosphere unik yang sukar saya temukan di Jakarta seperti jalanan yang bebas macet, beragam jenis adv yang cukup eye catching serta yang paling penting adalah jajanan yang tersebar dari tepian jalan, ruko, komplek hingga Mall yang kesemuanya terlihat sangat menarik untuk dicicipi serta tentu saja Factory Outlet yang, ya ampuuuunnn, bikin saya nyesel pernah masuk!
Bicara tentang makanan, saya pikir, Jogja memang surga makanan. Saya katakan demikian karena selama beberapa hari di kota ini, saya mendapati banyaknya jajanan dan makanan yang enak-enak, pilihan yang beragam serta murah banget—compared to Jakarta loh ya!—hal tersebut masih ditambah dengan dekorasi toko yang unik dan menarik untuk disinggahi. Tidak hanya berhenti di situ saja, fasilitas free Wifi yang disediakan di hampir semua tempat makan dan cafe, menjadikannya cozy dan membuat para pengunjung betah untuk lama-lama berada di tempat tersebut.
Sebut saja misalnya Kedai 24 Jam. Sebagaimana namanya, kedai ini memang buka selama 24 jam. Hal menariknya adalah menu yang mereka sediakan misalnya menu GOGOLO, acronym dari Gerombolan Nasi Goreng Sesuka Lo, PELACUR, acronym dari Pemusnah Lapar Cukup Rasional, MASTURBASI dari Mie Nasi Telur Bercampur Dalam Satu Porsi, dan lain sebagainya. Sementara untuk minuman ada Buih Buih Syurga yang berisi aneka jenis muniman bersoda, Milk Sex, Warna Warni Horny serta Smoothy Orgasm yang masing-masing memiliki keunikan tersendiri. Harganya? Murahnya kebangetan! FYI, range harga dari 2000 hingga 12.000an saja. Bagaimana dengan rasanya? Enggak usah kuwatir, semuanya enak! Just give a try on!
Salah satu tempat makan lainnya yang saya samperin dan tergolong unik adalah the House of Raminten. Well, saya setuju bahwa tempat makan tersebut memang unik, keunikan yang bikin saya tidak betah berlama-lama di dalamnya, dan penyebabnya tidak lain kecuali aroma kembang tujuh rupa yang menyerbak dari segala penjuru. Mungkin bagi sebagian besar aroma tersebut tidak ada masalah, bahkan mungkin cukup relaxing, tapi tidak bagi saya yang menilainya seperti lagi makan di pekuburan atau tempat angker, belum lagi suasana lampunya yang temaram, duh! Yet, semua itu nyatanya tidak menganggu selera makan saya, ayam bakar dan ice cream bakarnya cukup menggugah selera, terlebih harganya yang,,, hmh,,, murah! J
Bagaimana dengan shopping paradise? Well, awalnya saya underestimate terhadap jogja. Iyalah, itu kan kota kecil, means, ZARA, Pull and Bear, Top Man, Mooks, Prada, LV etc udah pasti gak ada, buat para shopaholic, Jogja isn’t the exact right place buat belanja. Iya itu awalnya, sebelum akhirnya temen saya, pas hari pertama—pula—ngajakin saya ke salah satu factory outlet tak jauh dari pusat kota. Tempatnya yang nyaman, pilihan yang banyak, unyu-unyu, serta harga yang superb terjangkau hanyalah sekelumit hal yang bisa memanjakan mata anda yang gila belanja. Well, setelah ambil beberapa barang dan bayar ke kasir, sesal saya bukan kepalang, sebab yang terlintas dalam benak saya setelahnya adalah, “TIGHTEN YOUR SEATBELT!” with CAPS, means, saya harus puasa karena uang yang aturan saya pakai untuk ‘menyambung hidup’—sengsara banget sih gw—udah menipis sejak hari pertama karena FO brengsek itu! argh!
Selain kedua hal tersebut di atas, belum pas rasanya jika membicarakan Jogja tanpa menyinggung kebudayaannya. iya, kebudayaannya! sekali lagi, kebudayaannya!! selama kurang lebih 1 minggu menjelajahi sudut-sudut kota tersebut, membuat saya, yang dulunya suka sensi—atau syirik—pas denger label ISTIMEWA pada I di akronim DIY, memafhumi labelitas tersebut, iya, jogja itu istimewa. Masyarakatnya yang ramah, kebudayaannya yang Alhamdulillah masih terjaga dengan cukup baik, serta lingkungannya yang sangat mendukung hanyalah salah tiganya.
Lastly, banyak orang yang bilang Jogja itu ngangenin, dan ember, jogja agaknya memang diciptakan untuk menebar virus “Jogja Fever”. Jadi pengen ke Jogja lagi, pengen makan-makan lagi, pengen menyusuri sudut demi sudut kota dan perkampungannya lagi, dan yang pasti, pengen menyusahi temen saya lagi, bahagia gitu rasanya bersenang-senang di atas penderitaan teman sendiri yang harus mengantarkan saya kemana-mana dan mengabulkan permintaan saya yang banyakan gak masuk akalnya. Thanks Hamli,,, XOXO.

Sabtu, 17 November 2012

Notes from Portugal


All Summer School Participants
Umh, darimana ya harus saya mulai tulisan ini? Deuuuhhh,,, galau tingkat tinggi nih berasanya. Hahaha.

Jadi ceritanya Agustus 2012 kemaren, saya kembali mendapatkan kesempatan luar biasa, yakni mengunjungi Negara Portugal, tempat pemain sepak bola terkenal, Christian Ronaldo berasal, dalam rangka mengikuti beasiswa Summer School dari the United Nations di Universidade de Coimbra, sebuah universitas katholik yang terletak di tengah-tengah Negara Portugal. Banyak sekali pengalaman berharga yang saya dapatkan. Mau tau apa saja? Yuk langsung saja.

Pre-Departure

Adalah perasaan khawatir yang menimpa saya saat baru pulang dari Russia pada tanggal 23 Juli 2012 kemaren. Perasaan khawatir tersebut tentu beralasan, sebab meski sejatinya saya sudah mendapatkan tiket P.P Jakarta-Lisbon, namun saya belum mengantongi Visa Schengen, salah satu jenis Visa yang menurut isu beredar, visa tersebut susah untuk didapat, sementara saya hanya punya waktu kurang dari 10 hari untuk menyelesaikan semuanya, dari mengumpulkan berkas, wawancara ke Kedutaan dan berbagai persiapan lainnya. Namun Alhamdulillah, saat saya mengurus Visa, saya mendapat sambutan hangat dari Mrs Carla, staff di kedutaan serta mendapat pelayanan khusus, “kamu menjadi prioritas utama kami, karena kamu diundang oleh mantan presiden kami!”, ungkapnya, “hal lain yang harus kamu ketahui adalah, kamu tidak dipungut uang speserpun untuk pegurusan visa ini!”, dan yesss,,, Visa saya jadi hanya dalam waktu tiga hari. Thanks God!

Taukah kamu tentang apa yang ada dalam benak saya saat saya mempersiapkan semuanya? Pada saat-saat tersebut saya merasa menjadi seorang diplomat sepenuhnya. Hehehe. Lebbay sih, tapi memang benar kok, sensasi tersebut yang saya rasakan. Bayangkan, baru selang 10 hari, sejak saya  pulang dari Russia, saya harus berangkat lagi ke luar negeri dalam rangka membawa nama baik Indonesia di mata internasional. Dan berangkatlah saya ke Portugal menggunakan Singapore Airlines dan Emirates dengan transit dulu di Singapore dan Dubai sebelum akhirnya sampai di Lisbon. And guess what, I was just alone! J

My Summer Dream

Coimbra Down Town
Sesampainya di bandara Lisbon, saya langsung bertemu dengan beberapa sahabat dari Negara lain yang sebelumnya telah melakukan kontak di jejaring social. Ada Jan Ufuk dari Afghanistan, Yvone dari Afrika, Alafadhil dari Dubai, Shidiq dari London dan beberapa teman lainnya. Kami langsung akrab dan berbincang banyak terkait aktivitas masing-masing. Rasa lelah dan jetlag tidak terasa sama sekali karena terlalu diasyikkan dengan ngobrol.

Universidade de Coimbra
Menjelang jam 18.00, kami berangkat dengan Bus menuju kota Coimbra, kota tempat kami belajar. Sesampai di Coimbra, kami langsung dihantar ke Asrama Mahasiswa Kedokteran yang letaknya sekitar 1 kilometer dari letak Kampus.

Beragam kegiatan yang kami lakukan selama di kampus, dari Lecture class, workshop, diskusi dan debat. Tentu kegiatan tersebut semakin menarik karena peserta yang ada benar-benar variatif, yakni ada sekitar 130 peserta dari 69 Negara yang terpilih, kondisi ini memungkinkan saya untuk mempelajari lebih dalam lagi terkait disiplin ilmu yang kami pelajari, sesuatu yang sangat sukar bahkan mustahil saya dapatkan di UIN Jakarta, tempat saya menimba ilmu.

Ohya, saat saya masih di Pesantren dulu, saya pernah bercita-cita untuk mencicipi bangku kuliah di sebuah Universitas Katholik, sebab info yang saya dapat, banyak lembaga pendidikan berbasis agama katholik, selalu memiliki kualitas yang baik, dan itu benar-benar saya alami saat saya di Universidade de Coimbra.

Lisbon Sightseeing

Lisbon Down Town
Seperti program kepemudaan lainnya, salah satu program kami selama di Portugal adalah kegiatan mengunjungi situs-situs menarik yang ada di Negara penyelenggara, maka selama di Portugal juga, ada program Lisbon Sightseeing yakni acara kunjungan ke beberapa tempat menarik di kota Lisbon seperti Gereja Kathedral, Sinagog, Masjid Jamik, serta beberapa museum menarik di kota tersebut. Tempat-tempat ibadah tersebut menjadi tujuan kami karena memang program tersebut bertemakan Intercultural Dialogue. Well, I got a lot of new experiences while I was in Lisbon.

Europea da Juventude

Braga 2012
Pasca program Summer School selesai, semua peserta diajak untuk ke Braga City, sebuah creative city yang terletak di ujung utara Portugal. Tujuan utama kami kesana adalah menghadiri undangan dari Europea da Juventude untuk merayakan bersama kegiatan International Youth Day yang dilaksanakn serentak di berbagai Negara di dunia.

Disamping itu, kami juga berkesempatan untuk jalan-jalan di downtown Braga city, kota yang juga dikenal dengan istilah the Rome of Portugal karena aroma religious yang terasa dari socio dan culturalnya yang sooo Rome. And well, that’s true!

Dan ending dari semua cerita tersebut adalah, selama beberapa minggu, jetlag menjadi persoalan serius yang saya rasakan. Sampai-sampai saya merasa kapok dalam beberapa waktu untuk naik pesawat lagi. J

About Me

Foto saya
Care Calm n' Comfortable

Pembaca Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Translate

Follow us on FaceBook

 

© 2013 wellcome to saxera's zone. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top