Sabtu, 19 Desember 2009

Elegi Nyai Syarifah





Bisa jadi, hari ini adalah hari paling bersejarah bagi Nyai Syarifah, bahkan mungkin semua penghuni pesantren Ar-Rahman. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya nyai Syarifah mau menikah lagi.


Hari belumlah sore waktu itu, beberapa santri kabuleh1 yang sudah biasa keluar masuk dhelem tampak sibuk keluar masuk dapur pesantren. Ada yang membawa adonan, nampan, toples berisi kue-kue kering dan ada pula yang terlihat membawa beras untuk dicuci, berikut beberapa peralatan memasak lainnya.


Di salah satu sudut ruangan, nyai Syarifah tempak tengah memandang lekat baju kebaya dan kerudung hitam bermotifkan bunga kamboja. Hanya samper2nya saja yang berwarna cokelat tua dengan motif kembang liris vertikal. Entah apa yang melatari beliau memilih kain serba hitam, tak satupun orang tau, pastinya, kulit putih bersihnya memang terlihat tampak kontras ketika dibalut kain hitam. Dan aroma kecantikannya kian terasa.


Serajut bunga Jasmine yang dibentuk menjumput layaknya mahkota ratu, duduk manis di dekat ventilasi yang mengarah langsung pada halaman pondok pesantren. Ada senyum mengembang di bibirnya.



Orang-orang mengenalnya sebagai sosok Muslimah yang arif, bijak dan juga tawaddhu’. Semenjak Ustadz Zainal meninggal 20 tahun yang lalu, Beliau memilih untuk mengabdikan diri dan membantu pesantren; mengajar kitab ketika nyai Muallimah, istri kiai Fadlan tengah berhalangan, mengatur semua kebutuhan logistik pesantren dan tentu saja mengajar sekolah formal setiap hari selasa.


Banyak santri yang bersimpati padanya, bukan hanya karena kecantikan beliau yang memang hingga saat ini masih tetap terawat tanpa bantuan kosmetik sama sekali, melainkan lebih karena kebaikan, kepintaran, kecerdasan dan kesabaran tak terhingga yang dimilikinya. Banyak yang mengatakan, kesabaran yang dimilikinya hampir menyamai istri Mus’ab bin Umair yang kesabarannya hampir melegenda, maupun ummi Khansa’ yang merelakan ke empat anaknya syahid dengan bertempur membela islam. Subhanallah.


Sosoknya yang lincah, enerjik, inovativ, memiliki jiwa leadership3 yang memadai, namun dibalut dengan akhlaq islami, adalah salah lima dari sekian banyak keistimewaan yang dimilikinya. Belum lagi kecantikan alami yang bersemi tanpa bantuan peralatan kosmetik. Sungguh ia serpih embun yang menetes ke bumi dan menjelma sebagai sosok akhwat bernama Syarifah.


Sejak pertama masuk pesantren, sosoknya yang bersahaja memang langsung menarik perhatian dari berbagai kalangan. Dari santri sendiri, pengurus pesantren, asatidz bahkan sempat terdengar selentingan kabar bahwa, keluarga kiaipun juga turut memperbincangkan nyai Syarifah.


Namun terlepas dari itu semua, nyai Syarifah tetaplah manusia biasa yang tak pernah alpha dari salah dan dosa. Seperti kata bijak, semakin besar sebuah pesantren, secara bersamaan comberannya juga akan ikut membesar. Ini adalah hukum alam.


Pernah suatu ketika dia dipercayakan sebagai ketua pelaksana acara jurnalistik yang digelar oleh Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) Putri. Awalnya dia menolak dengan alasan, masih banyak santri lain yang jauh lebih kompeten dibading dirinya, terlebih pada saat tersebut, beliau masih terhitung sebagai siswi kelas II Madrasah Tsanawiyah, namun pengurus tetap keukeuh hendak menjadikannya sebagai ketua panitia.


Saat acara hendak berlangsung, semua panitia terlihat panik, sebab hingga jam 07.30, pemateri dari dari Media Massa nasional yang diundang belum datang juga. Padahal hampir 80 persen peserta yang datang dari seluruh pesantren se-Madura telah hadir.


Sampai jam 08.00 ditunggu, namun pemateri juga belum datang juga. Hingga datang seorang pria tinggi kurus yang memaksa bertemu dengan nyai Syarifah. ketika ditelisik, ternyata lelaki tersebut adalah wartawan juga yang ditugaskan Mbak Indri untuk mewakilinya mengisi diklat jurnalistik, sebab mbak Indri sendiri tengah berhalangan hadir.


Ketika dikonfirmasi ke pihak pengurus, seluruh pengurus berang dengan wartawan tersebut, karena dinilai telah melanggar ketentuan, baik agama pun pesantren yang jelas-jelas melarang adanya Ikhtilat4 antara ikhwan dan akhwat, terlebih wartawan tersebut dinilai tidak berpakaian Islami karena tidak memakai sarung dan kopyah.


Sebagai ketua pelaksana, nyai Syarifah tidak mau acara yang dihelatnya gagal hanya karena persoalan kelamin dan pakaian. Makanya dia tetap memaksa pengurus untuk mengidzinkan mas Awiek, nama wartawan tersebut untuk masuk.


“ Silahkan buat pesantren sendiri saja jika kamu tetap memaksakan dia untuk masuk!”, berang Ustadzah Aisyah sembari memukul meja kantor pesantren.


Dan acara tetap berlanjut. Banyak pihak yang menyayangkan kejadian tersebut. Sebagian mendukung sikap nyai Syarifah yang memilih mensukseskan acara meski harus menentang pihak otoritas pesantren. Namun sebagian besar justru mencibir dan menganggapnya sebagai pembangkang.


Maka adalah wajar jika saat bersamaan, nyai Syarifah memilih menangis dan menumpahkan segala kekecewaan dan mungkin ketakutannya dengan menulis surat melalui Bu Mina, kabuleh pesantren yang memang biasa membawa kiriman, dari putra ke putri pun sebaliknya yang berisi permintaan semangat dari katua FLP putra, Ikhwan yang dinilainya sebagai sosok sepaham yang memilih memijaki sisi positiv ketimbang berasyik-masyuk dengan normatifitas keagamaan versi pesantren Ar-Rahman. Sebab neng Muttaqiah, putri pengasuh yang biasanya memberikan support terhadap perjuangannya, pada saat itu tengah berada di Makkatul Mukarromah guna melanjutkan studinya.


Dan sejak kejadian itu, namanya buruk di mata penghuni pesantren, khususnya sebagian besar pengurus. Sikap kukuhnya mempertahankan pendapat yang dinilai sebagai representasi pembangkangan terhadap otoritas pesantren, terlebih ketika intensitas kiriman surat dari santri putra kian meningkat kerap menjadi alasan muara fitnah.


Puncaknya adalah saat nyai Syarifah hendak membangun perkumpulan pecinta seni di kalangan santri putri yang dinilainya dari dulu kerap ada dikotomik dengan ilmu agama bernama Teater Kertas. Sudah bisa ditebak, tentu saja, ini ditentang habis-habisan oleh pihak pesantren, tak terkecuali ketua pengurus.


Bagi mereka, tak ada toleransi bagi teater untuk eksis di lingkungan pesantern Ar-Rahman. Teater adalah budaya orang-orang kafir, dan Islam sangat anti terhadap budaya mereka.


“ Man tasyabbaha bi qoumin fa huwa min hum5! Apa ukhti mau disamakan dengan kuffar itu? Astaghfirullah, dari mana ide gila itu muncul?”, sembari memandang lekat nyai Syarifah.


Nyai Syarifah membantahnya dengan menyebut argumentasi ustadzah Waradah tidak mendasar sama sekali. Baginya, Islam dan Seni, tidak boleh dibedakan. Tak pernah ada dikotomik antara islam dan seni. Lihat saja Al-Quran yang turun dengan nilai sastra yang begitu tinggi hingga banyak Sahabat nabi memilih memeluk islam karena terbuai dengan keindahan ayat-ayatnya yang penuh ritme namun tak meninggalkan substansi pesan yang hendak disampaikan.


“ Jika ustadzah berfikir Islam tidak memiliki nilai seni yang begitu tinggi, maka silahkan salahkan Al Quran yang juga memiliki tingkat kerumitan seni yang tinggi,” bantahnya. ustadzah Wardah terlihat tambah emosi. “ Ana pikir, tak ada salahnya ustadzah belajar kembali tentang Islam!”, lalu nyai Syarifah memilih pergi dengan membawa seribu beban.


Dan pesantrenpun gempar. Semua kalangan di pesantren membicarakan nyai Syarifah. santri, asatidz, pengurus bahkan hingga sampai ke masyarakat luas yang tinggal di sekitar pondok juga tak luput membicarakan nyai Syarifah.


“ Buat apa cantik jika kelakuannya sama persis dengan para kuffar???”, cibir seorang santri. Hampir semua orang mencibirnya, menyebutnya sebagai pembangkang, baik terhadap pesantren pun juga Islam. Bahkan ada salah seorang Ustadz yang menghalalkan darahnya untuk dibunuh.


Kedua orang tuanya juga telah dipanggil oleh pengurus guna menjemputnya pulang. Nyai Syarifah telah diusir dari pesantren. Sembab dan bengkak di pelupuk mata Umminya, menandakan bahwa beliau telah menangis semalaman. Jujur, secara pribadi, nyai Syarifah tidak pernah menganggap persoaan ini membebani, namun ketika dikaitkan dengan persoalan keluarganya, dimana mereka tidak pernah tahu menahu alasan kenapa ini terjadi, sungguh sangat menyiksa baginya.


Kabar tersebut akhirnya sampai juga di telinga Kiai Muhammad. Secara cepat beliau memanggil aby ummi nyai Syarifah dan beberapa pengurus. Lama mereka di dalam ruang tamu, entah apa yang mereka bicarakan.


Saat genting tersebut, nyai Syarifah memohon pada dewan Ishlah6 yang kebetulan pada saat tersebut, teman dekatnya yang tengah berjaga untuk memanggilkan Akhi Kholis.


“ Yang tabah, Ukhti… Ummu Khansa merelakan ke empat anaknya guna mati syahid! Kita patut mencontoh beliau! ”, pesan terakhir Akhi Kholis saat itu. Dan air mata itu tetap tak mampu terbendung.


Saat bapak kiai keluar, kabar mengejutkan tiba-tiba terdengar, bahwa nyai Syarifah tidaklah bersalah. Oleh karnanya nyai Syarifah gagal dikeluarkan dari pesantren. Sesegera beliau sujud syukur sebagai bentuk terimakasih pada Allah.


Sejak saat itulah nama nyai Syarifah dikenal oleh banyak orang. Terlebih ketika bapak Kiai merespon keinginan nyai syarifah untuk membentuk organisasi guna mewadahi santri yang mencintai seni.


Menginjak kelas III Tsanawiyah, kabar mengejutkan kembali terjadi. Ustadz Zainal yang hampir berumur kepala 4 hendak mengkhitbah nyai Syarifah yang masih berumur 16 tahun. Bagi banyak kalangan di pesantren, ini dianggap hal yang wajar, sebab kondisi serupa kerap terjadi. Tapi tidak bagi nyai Syarifah. perbedaan umur yang cukup terjal antara pihak pria dan wanita, pola pikir yang jelas-jelas tidak sama patutnya menjadi pertimbangan utama dalam persoalan pernikahan. Sebab pernikahan bukan hanya persoalan sepintas lalu. Namun terkait dengan masa depan.


Namun lagi-lagi otoritas pesantren kembali menyita kebebasan hak yang patutnya dimilikinya. Keberpihakan orang tuanya terhadap pesantren juga kian menghimpit ruang geraknya, hingga akhirnya beliau pasrah pada nasib. Dan tiga bula kemudian ustadz Zainal meninggal Karena serangan jantung. Maka di umurnya yang masih 17 itu, nyai Syarifah telah menjadi janda kembang. Sejak saat itu, beliau jarang sekali berbicara.


Di umurnya yang hampir menginjak kepala empat ini, beliau mulai membuka diri, bahkan dari saking “terbukanya”, banyak sikap yang tunjukkannya menjadi polemik di kalangan pesantren. Sebut saja keinginannya untuk mengkhitbah7 salah seorang santri putra yang secara umur berbeda jauh darinya. Ikhwan nama pemuda itu, dia baru lulus Madrasah Aliyah. Secara keislaman memang cukup mumpuni, namun secara emosional, agaknya masih terbilang anak-anak.


Atau Irham, anak kepala desa kecamatan Bluto yang secara spontan hendak dikhitbahnya pula. Sikap ini menjadikan kondisi pesantren kian tak stabil. Bukan karena masalah khitbahnya, melainkan lebih karena timbul pemikiran, bahwa nyai Syarifah gila karena depresi ditinggal suaminya.


Lalu atas bantuan Kiai Fadlan, nyai Syarifah kembali menemukan sosok pendamping hidupnya, pengganti ustadz Zainal bernama Syaiful Mujani. Umurnya tidak jauh berbeda dengan dirinya, hanya selisih satu tahun di bawahnya. Kiai Fadlan yang menanggung semua kebutuhan pernikahan nyai Syarifah.


Hingga jam 12.00, penganten pria yang ditunggu-tunggu juga belum datang. Nyai Rodhi yang bertanggung jawab terhadap segala jenis hidangan, terlihat gusar melihat santri putri yang membantunya lamban dalam bekerja. Untungnya tamu undangan dari pihak pria masih belum datang juga.


Meski umurnya hampir menginjak kepala empat, nyai Syarifah tetap terlihat cantik dan anggun dalam balutan kebaya serba hitam bermotofkan bunga kamboja itu. Beberapa tamu yang hadir dari penduduk kampung dekat peantren telah hadir, terkesima dengan kecantikan nyai Syarifah.


Jam sudah menunjukkan pukul 13.00. namun yang ditunggu-tungu juga belum datang juga. Nyai Rodhi yang awalnya gusar karena kue-kue yang akan dihidangkan belum selesai, kini gusar karena tamu yang ditunggu-tunggu belum juga hadir.


Beberapa tamu terlihat telah berpamitan dengan berbagai alasan yang melatarinya. Sementara kiai Fadlan yang sudah mulai merenta juga terlihat mulai panin. Namun tak beliau tunjukkan.


Minuman dan kue-kue yang disuguhkan kepada para undangan dari KUA kecamatan juga sudah berkali-kali ditambah karena menunggu pihak pria yang tak kunjung datang.


Sebuah mobil kijang masuk pelataran pesantren. Seorang dari dalam mobil itu keluar lalu sesegera beranjak ke tempat kiai Fadlan di ruangan tamu, berbisik dan ada gurat sesal di wajah kiai Fadlan.


Sesuatu yang buruk telah terjadi.


Serta-merta kiai Fadlan beringsut ke kamar nyai Syarifah dan, “ Maaf Syarifah, tapi aku harus mengatakan ini padamu. Toh pada akhirnya kamu juga harus tahu”, kiai terlihat menarik nafas “ Syaiful minggat dari rumahnya!!!”.


Nyai Syarifah merunduk. Dan sebutir Kristal menggelinding di rona pipinya yang mulai keriput dimakan usia. Entah untuk siapa air mata itu, untuk Syaiful Mujani yang telah meninggalkannya pergi, ketidak adilan yang dari dulu menimpanya, atau untuk matinya nilai ke Muhammadan dengan sepinya pemuda yang menikahi janda sepertinya. Seperti Muhammad yang memilih menikah Khadijah demi alasan jihad fi sabilillah.


Biarlah hanya nyai Syarifah yang tau.


1 pembantu


2 Sampir


3 kepemimpinan


4 Campur baur


5 Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka dia adalah sebagian dari kaum tersebut


6 keamanan


7 lamar

Jumat, 30 Oktober 2009

Menakar Problematika Kesemrawutan Kampus


Gembar gembor ihwal direalisasikannya penerapan tarif parkir di kalangan civitas akademika Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, yang beberapa hari belakangan santer terdengar, langsung menimbulkan pro kontra di kalangan mahasiswa. sebagian menolak dan sebagian lagi justru mengamininya dengan berbagai argumentasi yang melatarinya, sementara lainnya memilih abstain.
merebaknya isu tersebut, sebetulnya bukan hal yang serta merta mencuat tanpa alasan yang jelas. banyak kalangan elite kampus yang menilai, kuantitas kendaraan bermotor yang masuk ke areal kampus melebihi space yang tersedia, kondisi ini masih diperparah dengan banyaknya mahasiswa yang enggan mematuhi kebijakan kampus terkait persoalan ketentuan parkir--dalam hal ini, memakai jalan sebagai tempat parkir--,hal tersebut mengakibatkan jalan yang menghubungkan antara satu gedung dengan gedung lainnya beralih fungsi menjadi lahan tempat parkir karena tidak ada lagi tempat parkir yang masih tersedia.
lebih dari itu, tak sedikit jumlah mahasiswa yang juga berpikir sama, bahwa kendaraan, khusunya motor yang ada di kampus terlalu banyak, hingga terlihat begitu semrawut dan tidak nyaman sekali untuk dilihat. oleh karenanya harus diberlakukan kebijakan baru guna mengurangi pemakai kendaraan bermotor di kampus.
beragam aksipun dilakukan sebagai bentuk penolakan oleh mahasiswa yang nota benenya berada di kubu kontra, seperti penyebaran pamflet yang berisi seruan terhadap semua mahasiswa untuk menolak pemberlakuan tarif di kalangan kampus yang bagi sebagian besar aktivis dinilai sebagai contoh kongkrit komersialisasi dunia akademis. hingga pawai di depan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) yang menjadi sentra lalu lintas di kampus satu.
menyikapi persoalan dilematis tersebut, pada hakikatnya penulis berpikir kedua kubu--Mahasiswa-Elite Kampus--yang tengah berseteru sama-sama memiliki sisi negativ, tentu jika kita lihat dari sudut pandang akademis. mahasiswa misalnya, sangat tidak relevan agaknya jika protes dalam bentuk long march dijadikan langkah, masih banyak jalan lain yang bisa ditempuh semisal melakukan renegosiasi--soft approache--terhadap pihak kampus, menggunakan strategi ketimbang aksi dan tentu saja menawarkan konsolidasi yang lebih relevan yang menunjukkan bahwa kita adalah insan akademis. dan bukan dengan aksi unjuk rasa seperti yang sudah sudah.
di lain pihak, kebijakan kampus juga memiliki sisi negativ yang tak kalah buruk ketimbang mahasiswanya. alasan pemungutan tarif terhadap kendaraan bermotor sebagai langkah untuk mengurangi jumlah kendaraan yang masuk kampus, bagi penulis bukanlah alasan yang rasional. ini karena beberapa indikasi yang antara lain
- dalam penerapan tarif parkir, aroma komersialisasi pendidikan sungguh sangat kental terasa. dalam problematika ini, sebetulnya pihak kampus dapat menerapkan batas jumlah kendaraan yang masuk perharinya agar kesemrawutan karena banyaknya motor yang masuk dapat ditekan seminimal mungkin (sebagai contoh penerapan di beberapa parking area di mall tertentu di jakarta)
- jikapun penerapan tarif masih keukeuh ingin dijadikan alternatif, maka pihak kampus haruslah memberikan pelayanan yang berbeda dan lebih baik tentunya,terhadap mahasiswa yang membawa motor. sebab harusnya ada timbal balik yang equal antara tarif yang diberlakukan dengan pelayanan yang diberlakukan. sebagai analoginya, perbedaan tarif antara wisma dengan harga ekstra murah dengan hotel berbintang lima.
- kesalahan yang penulis nilai sangat fatal adalah, ternyata, pemberlakuan tarif yang ada, tidak mengurangi pengguna kendaraan bermotor di areal kampus. bahkan dari hari ke hari, jumlahnya kian membeludak, tak terkecuali di kampus dua yang hanya menampung tiga fakultas saja. ini menandakan, penerapan tarif yang seyogyanya dijadikan pembendung mengguritanya jumlah mahasiswa yang membawa kendaraan, tidak memberikan efek sama sekali.
berpijak dari masalah tersebut, penulis berpikir, ada baiknya jika mencari langkah lain yang jauh lebih bijak dan dewasa sebagai cerminan insan keakademisan kita.
misalnya dengan pemberlakuan konsep Bike to Campus. statemen ini, mungkin bagi sebagian besar orang bukanlah hal asing yang baru didengar, namun kebanyakan masih belum menyadari betul arti penting slogan ini.
beberapa alasan penulis menawarkan Boke To Campus sebagai jalan alternativ antara lain.
- bersepeda ke kampus akan menjadikan tubuh lebih sehat.
- tidak menimbulkan polusi (ini juga berperan sebagai bentuk nyata insan akademis yang sadar arti penting menjaga lingkungan agar terhindar dari bencana alam dan mengurangi efek galobal warming)
- tidak membuat kampus bising. banyak dosen dan juga mahasiswa yang merasa terganggu saat proses belajar mengajar berlangsung ketika mendengar kebisingan yang terjadi.
- mengurangnya kesenjangan sosial antar mahasiswa.
dan terakhir, konsep ini haruslah dimulai dari kalangan elite kampus terlebih dahulu. agar menjadi cermin bagi mahasiswanya.
dengan ini semua, segala permasalahan yang melanda kampus akan segera terselesaikan tanpa ada satu pihakpun yang dirugikan.

Selasa, 29 September 2009

Chichi The Champion


Madura panas, ah udah biasa, semua orang udah pada tau, terlebih pada saat kemarau. Hujan yang lama tak turun-turun dari kayangan, menyebabkan panas bermain-main di kisaran 34 derajad celcius. Banyak pohon yang jatuh kerontan karena lama gak mandi, rumput-rumput juga gak berani liar, maunya layu mulu, malah ada yang udah kering sama sekali. makanya banyak orang pada memilih ngeringkuk di dalem rumah, ngadem dari sengatan panas matahari.
Ada yang berbeda siang itu. Gadis berkulit cokelat nyaris hitam, tengah duduk di Poskamling yang letaknya tak jauh dari jalan raya. Berkali-kali matanya celingak-celinguk, barangkali angkot yang tengah dia tunggu-tunggu datang. Namun sudah 30 menit berlalu, angkot yang dia tunggu-tunggu tak juga nampak. Hanya beberapa mobil pribadi dan motor yang terkadang melintas.
Salah dia sendiri juga, kenapa gak minta anterin ke Elban, kakak sepupunya yang sangat baik namun sangat menjengkelkan itu. Tinggal minta anterin ke kecamatan, kan semuanya selesai! Tidak perlu repot-repot jalan kaki dari rumah ke jalan raya yang jaraknya hampir sekilo, nunggu angkot lama-lama sampe kaki kesemutan gini, dan berdesak-desakan dengan pengguna angkot lain yang biasanya masuk sama ayam-ayamnya, bahkan tak jarang sama kambingnya pula, kambing dengan arti sebenarnya! Sungguh sangat memilukan! Namun bagi Chichi, nama gadis itu, ini semua terasa jauh lebih nyaman ketimbang minta tolong sama si Elban.
Bersama Elban sejak baru lahir hingga kini umur Chichi mencapai 19 tahun, sudah cukup baginya untuk mengenal Elban luar dan dalam. baginya si Elban itu adalah lintah darat, atau kalo enggak kapitalis; mempunyai modal yang dibutuhkan, namun sekali kepincut sama modalnya, hati-hati saja kita diperas.
Pernah suatu ketika Chichi ikut lomba kepenulisan sekabupaten. Informasi itu didapatnya dari pak Agus, guru Basindo di sekolahnya. Mendengar penjelasan pak Agus yang bilang bahwa pesertanya sangat sedikit, karena meski skalanya sekabupaten, yang diikut sertakan hanya sekolah-sekolah favorit, udah gitu kategori cowok sama cewek dipisah pula, eh masih ditambah dengan persyaratan umur. Nah langsung tuh semangat 45 Chichi berkobar, optimis bakalan menang. Terlebih saat tema yang Chichi ajukan ke pak Agus direspon dengan sangat baik, sebab masih terkait dengan budaya sebagian kecil masyarakat madura. Bahkan dari saking semangatnya, Elban sampe mau dibelikan sepeda.
” Mau apa ajah, tinggal bilang!”, pongah Chichi.
“ Sombong sih boleh, asal ada yang bisa dibanggakan saja! Lah ini, masuk nominasi juga belom pasti!!!”. Ledek Elban sambil cengengesan.
Sebel banget Chichi, kenapa mesti punya kakak kayak dia, kenapa sejahat dia, dan kenapa gak mau ngasih support sama adeknya pas lagi mau kompetisi, ‘tapi tenang saja, belom tau sih dia gimana sepak terjangku!’, pikir Chichi menyemangati diri. 
Tapi enggak ding, Elban gak sejahat yang dia pikirkan, buktinya Elban yang ngebantuin setiapkali dia ada masalah, misalnya pas nyari referensi tulisannya, membantu ngediksi, bahkan sampe bolak-balik sekolah-rumah-kediaman pak Agus-kantor kabupaten yang jaraknya bukan main.
Singkatnya, pas penentuan nominator, Chichi dipangil ke Kabupaten, beserta seluruh rekannya yang satu sekolah. Bahagianya pas bapak sama ibunya tersenyum melihat Chichi dijemput memakai mobil oleh pihak sekolah. Lalu semua senyum itu hilang ketika dia tahu penjemputan tersebut hanya untuk mendengar ocehan para juri, yang isinya kurang lebih begini “ Kamu salah ngirim, lomba ini hanya untuk program IPA, tentunya temanya berkenaan dengan Ilmu Eksak! Lah kamu malah ngambil Carok, gimana seh???”. Ketus salah seorang disana.
Chichi yakin kegagalan itu bukan karena tulisannya yang jelek, tapi karena kesalahan informasi yang ia dapat, dan orang pertama yang patut disalahkan adalah pak Agus. Dialah yang ngasih info keliru!
Berangkat dari prsoalan pengkambing hitaman itu, berbagai jenis lomba kepenulisan lainnya juga mulai ia ikuti. Mulai dari hadiahnya yang hanya Rp 500.000 hingga Puluhan Juta Rupiah, dari yang skala RT hingga Nasional, dari lomba Puisi hingga lomba Menulis Karya Ilmiyah, semua ia jajaki, namun tak satupun juara yang mampu didapatnya. Maka menunggu dan kecewa adalah bagian dari episode hidupnya yang tak pernah lelah mengitari—halah sok puitis—, hingga sampai pada suatu ketika, ketika sebuah amplop besar bertuliskan ”Kepada Uchie Septriasa”, nama lengkap Chichi sampai di tangnnya. Langsung tuh pikirannya melayang-layang gak tentu arah. Menghayal berada di jakarta, di sebuah Ballroom Hotel berbintang, bersama para petinggi negara yang hendak memberikan penghargaan, dan bertebaran para wartawan untuk televisi maupun surat kabar. Besoknya Headline surat kabar berbunyi” Chichi: Bocah Desa Kelas Metropolitan”. Duh senengnya.
Dan keringat dingin langsung banjir. Hatinya juga dag dig dug, kayak mau pecah. Perlahan dibukanya amplop besar itu, dan didapatinya sebuah kertas tebal berwarna kuning keemasan dengan gambar Burung Garuda di bagian tengah atasnya. Sebuah kalimat dibawahnya tertulis ” Piagam Penghargaan Ini Diberikan Kepada Uchie Septriasa Atas Partisipasinya Mengikuti Lomba Penulisan Bla bla bla...”. sejenak gravitasi bumi terasa berhenti. Dan ” Arghhhhh...!!!”.
”Kegagalan itu pahit” tulisnya di mading sekolah. Lebih pahit lagi ketika Elban banyak komentar, tanya inilah, itulah, siapa yang salahlah, dan lain sebagainya, makanya Chichi kapok minta tolong lagi sama si Elban.
” Duh sayang yah duit dibuang percuma hanya untuk ikutan lomba gak jelas gitu? Ngetik di rental mahal, tambah biaya Print ini itu, gak sedikit lagi jumlahnya, manja banget si panitianya, minta naskahnya dirangkap-rangkap, masih juga harus ngeluarin duit buat biaya pengiriman. Mujur kalau menang, paling tidak, mengobati kerja keras kita, lah kalo sebaliknya??? ”. Sumpah pengen Chichi gunting mulut kakaknya itu. Namun gak tega rasanya. Sesering apapun kakaknya itu mengejek, namun sesering itu pula kakaknya mau menolong, membantu ini itu, terutama sekali perihal kebutuhannya pada alat transportasi. Soalnya Chichi yang sudah segede ini gak bisa naek motor.
Pernah juga Chichi ikut lomba kepenulisan Essai, temanya tentang perkembangan pendidikan di salah satu negara di eropa. Hadiahnya gak tanggung-tanggung dibawa ikut Summer Course ke Eropa, gretongan lagi. Langsung tuh semangat si Chichi kembali berkobar-kobar lagi. Bahkan lebih dari sekedar semangat pejuang 45, tapi semangat para Mujahidin dalam berperang melawan Pasukan Salib.
Berbagai informasi tentang Pendidikan, Lifestyle, Kebudayaan, hari-hari besar, hinga Destinasi Wisata Negara tersebut juga dicari. Mulai dari Media Massa, Browsing Internet hingga bela-belain ke kantor pusat informasi pendidikan negara tersebut di salah satu gedung pencakar langit Lantai 19 di jakarta, juga ditempuhnya demi mendapatkan informasi yang cukup.
Lalu hambatanpun mulai bermunculan. Mulai tata cara pengiriman naskah yang mengharuskan memakai teknologi, sebuah dunia yang masih asing bagi Chichi, hingga berbagai kesulitan lain di dalamnya yang tak kalah ruet ketimban bercocok tanam di desa. Bahkan sebagian besar peserta juga merasakan apa yang Chichi rasakan. Terlihat dari banyaknya pertanyaan dan keluhan kompetitor di situs penyelenggara. Semisal kesulitan mendaftar, kesulitan memasangkan Badge penyelenggara sebagai salah satu prasyarat, hingga kesalahan-kesalahan kecil lainnya.
Dan hal itu justru menjadi cambuk bagi Chichi, sebab semakin banyak orang yang kesulitan ntuk mengikuti kompetisi, semakin sedikit pula kompetitor di dalamnya, ini berarti saingan Chichi juga akan berkurang, jika kompetitor semakin sedikit, ini kan pertanda pintu kemenangan semakin lebar terbuka! Ah Eropa!.
Benar saja, ketika terakhir penutupan lomba, Chichi cek, dari 1000 lebih kompetitor, hanya 300an orang yang masuk seleksi, dan salah satunya Chichi. Thanks God!
Belajar dari kesalahan terdahulu, Chichi tak mau lagi bilang semua usahanya ini pada siapapun, khususnya si Elban, gak mau! Chichi baru akan bilang jika udah mau berangkat ke eropa, ketika sudah Packing, ketika Tiket Pesawat telah berada di tangannya—ngayal ajah!!!—bahkan, Rinta, teman dekatnya juga tidak diberi tahu. Biar surprice!
Maka, menunggu dan terus menunggu masih tetap menjadi tabiatnya. Satu bulan kemudian, pengumuman pemenang telah ada di website penyelenggara, dan... namanya tidak ada. Lalu ia rasakan gagal adalah kata yang akrab dengan kehidupannya, kecewa adalah camilan hidupnya, dan kalah adalah bagian tak terpisahkan darinya. Dia merasa kalah adalah kutukan.
Sempat ia Down dengan tidak mau ikutan lagi kompetisi serupa, namun kegemarannya menulis tak mampu tertutupi hanya karena karyanya kalah mutu ketimbang yang lainnya. Makanya berbagai lomba kepenulisan lainnya juga ia terus ikuti. Ada kenikmatan tersendiri ketika menulis dan tulisannya dibaca orang lain. Dengan atau tanpa penghargaan yang diperoleh. Yah, meski pemenang tetap menjadi impiannya, namanya juga manusia kan, Bo! Dan ia pun terus menulis menulis dan menulis.
” Eh neng, mau ikut tidak???”. kenek angkot membuyarkan lamunannya.
Sejenak dilihatnya jam di pergelangan tangannya, satu jam dia menunggu. ” Yah, tunggu!”. Blingsatan menjawab. Lalu sesegera masuk ke angkot. Dan angkotpun mulai berjalan.
Setengah jam perjalanan, Chichi sampai di kantor pos kecamatan. Pak Herman, petugas pos sangat mengenal Chichi, ini karena tiap kali berkas yang dikirimkan untuk sebuah lomba kepenulisan, dapat dipastikan, Chichilah pengirimnya. Makanya tak usah ditanya untuk apa atau apa isinya, sebab jawabannya pasti ’Lomba’ dan ‘Naskah Tulisan’.
“ Mau dikirim kemana, Neng?”. Tanyanya ramah.
“ Ke Surakarta, pak Herman!”, sembari tersenyum ramah.
” Sendiri? Nak Elban kemana? ”.
“ Sibuk kuliah, Pak!”. Singkatnya. Tolong, tunjukkan keajaibanMu, Tuhan! Bismillah! Doanya dalam hati seraya ngasih amplop tersebut ke pak Herman.
Ditimbangnya amplop tersebut, lalu “ Rp 12.000, neng!”.
Beberapa lembaran uang Chichi hitung dan “ Terimakasih, Pak!”
“Sama-sama, Neng!”.
Lalu Chichi segera keluar kantor pos. Beberapa mobil terlihat berlalu lalang. Hari sudah beranjak sore, perlahan udara mulai hangat. “ Ya Tuhan, kesorean nih, belum bantu-bantu Ibu menyiapkan makanan buka puasa. Apa kata Bapak nanti? “
“ Dasar cewek badung, ngabuburit gak ngajak-ngajak!!!”, sebuah suara mengagetkan Chichi, ternyata Kak Elban. Terkesiap Chichi dibuatnya, lalu segera ia pasan muka innocent dan…
“ Yah kakak, kemana ajah sih dari tadi, tau kakak gak kemana-mana, udah ku ajak ke sini”
“ Kemana?”
“ E …..?”, Bingung menjawab.
“ E….! ah udah, yuk naik, ntar takut kemaleman, kasihan Bibi nunggu kamu kelamaan!”, lalu Chichi naik dan… Brummm…
Di dalam perjalanan, tak banyak perbincangan yang mengalir antara mereka berdua. Tak enak hati rasanya jika Chichi membuka topik. Tapi, bukan Chichi kayanya kalau engak tanya ini itu. cerewet! Terakhir kak Elban yang balik nanya, tanya tentang dalam rangka Chichi ke Kecamatan. Jelas saja Chichi belingsata. Dari semua jenis pertanyaan, tentang ngapain ke kecamatan ini memang yang paling enggak banget. Bakalan ketahuan Chichi ikut lomba lagi. Huffh!!!
“ Kenapa gak jawab, Blekok!!!”, chanda kak Elban lagi. Mau gak mau, akhirnya Chichi cerita juga, mulai lomba kepenulisan, info lomba yang didapetnya, kenapa berangkat ke kecamatan sendiri, hingga terakhir urhat-curhatan mengenai kekecewaannya pas kak Elban bersikap gak apatis sama usahanya itu. Dih, jadi curhat die!
” Kenapa sih, kakak suka banget ngeliat Chichi gak menang?!”
” Suka ajah ngeliatin kamu sengsara!!! Hahahah...!” tertawa cekikikan. Bikin mules sajah neh bocah.
” Dasar, kakak gak bertangung jawab, kakak egois, kakak yang gak lebih baik dari burung kakak tua! Omelannya lebih cempreng dan sumbang ketimbang suara Ibu-bu!!! Argghhh...”. kak Elban hanya tersenyum simpul.
Motorpun sampai di depan rumah. Sesegera kak Elban taruk motornya di garasi samping rumah, dan sesegera menyusul Chichi yang tengah dongkol, lalu berbisik ” Pemenang sejati adalah saat berlapang dada menjadi sikap kita ketika kalah, dan! Dan patang menyerah masih berkobar dalam diri kita, dengan atau tanpa imbalan yang menanti! ”, Chichi terdiam, ” tanpa menjadi juara sekalipun, bagi kakak kamu sudah menjadi pemenang sejati”. Ucapnya seraya tersenyum simpul dan pergi meningalkan Chichi.
Ia tersenyum, ” Kakak...!!!”.

About Me

Foto saya
Care Calm n' Comfortable

Pembaca Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Translate

Follow us on FaceBook

 

© 2013 wellcome to saxera's zone. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top