Minggu, 31 Agustus 2014

AirAsia Dan Santri Udik

The world is a book, and those who do not travel, read only a page
~ St.Augustine ~
Seperti kertas lusuh nan usang, hanya sekelumit cerita yang masih saya simpan samar dari kejadian di tahun 2006 silam itu, saat sebuah advertising promo tiket ke luar negeri dengan warna latar syarat warna merah yang terpampang di Majalah Gantung kawasan asrama Blok E sebuah pesantren salaf di pelosok Madura. Tak banyak yang saya tau tentang pesawat terbang dan luar negeri pada waktu itu, sebab di samping bahan bacaan tentang dunia luar yang disediakan di pesantren cukup terbatas, segala bentuk media elektronik pun juga diharamkan, sehingga praktis, info dari luar hanya bisa kami nikmati dari koran maupun majalah, itupun terbatas. Namun melihat gambar Flight Attendant yang tersenyum renyah dengan balutan baju merah di iklan tersebut, seperti mentransfer semangat pada saya bahwa kelak saya harus mencicipi terbang bersamanya, berkunjung ke tempat baru yang asing, berkenalan dengan masyarakatnya, dan mempelajari kebudayaannya.
Berbekal semangat tersebut, awal tahun 2012, saat saya sudah menjadi mahasiswa di Universitas Islam Negeri Jakarta, akhirnya bisa mewujudkan impian tersebut dengan mengunjungi Singapura sebagai negara pertama yang saya kunjungi dalam rangka backpack-an. Yang membuat perjalanan tersebut istimewa adalah karena saya ditemani salah dua sahabat karib yang sama-sama dari desa, jarang jalan jauh, apalagi ke luar negeri yang kemudian mencipta cerita tawa ngakak, lirak-lirik kebingungan, serta marah karena hal sepele yang mewarnai perjalanan kami, well, sebentar saja sih marahnya, sebab dalam Islam, marah itu dilarang. Hehehe.
Ticket AA - CGK-SIN
Siang tanggal 18 Januari 2012 kami bertiga akhirnya berangkat bersama naik bis P21 dari Ciputat ke Blok M, lalu dilanjutkan dengan bis Damri Blok M-Bandara. Kekocakan kemudian dimulai saat kami hendak masuk bandara di mana petugas keamanan bandara, x-ray line, pintu metal detector dan trolley gate berdiri berbaris di pintu masuk. Usai memasukkan tas ke x-ray line, saya langsung bergegas ke pintu metal detector agar bisa check in sesegera mungkin. Namun belum sampai ke pintu yang saya tuju, di belakang terjadi keributan kecil. Awalnya tidak saya gubris, namun setelah mendapati keributan itu berasal dari ulah teman saya, akhirnya saya kembali. Usut punya usut, ternyata setelah memasukkan tas ke x-ray line, teman saya itu justru hendak masuk ke dalam melalui trolley gate dengan cara membungkuk. Kontan tingkahnya itu membuat petugas dan beberapa penumpang yang tengah antri tertawa semua.
Singkat cerita, kami sampai di Changi jam 21.25 dan mengingat kami masih belum mengantongi Hostel yang akan kami tuju [alibi sih! Alasan sebenarnya karena uang sangat tipis *LoL*], akhirnya kami memilih bermalam di Changi, minum air sebanyak yang kami bisa di water tap, serta sholat di ruangan ibadah untuk semua agama yang disediakan di Changi, hingga boboklah kami bertiga dengan begitu nyenyaknya.
Esok paginya, usai menunaikan ibadah sholat subuh dan menyantap sisa makanan yang kami bawa dari Jakarta, kami memutuskan untuk pergi ke bagian imigrasi agar bisa memulai pengalaman backpack-an perdana kami itu sesegera mungkin. Keluar dari stasiun Mass Rapid Transit [MRT] tepat di CBD Singapore, mata kami langsung dimanjakan dengan realitas yang serba moderen, teratur, dan bersih. Di mana-mana terdapat rambu-rambu dan plang peraturan seperti dilarang membuang sampah sembarangan, dilarang makan permen karet, dan meludah, lengkap dengan aneka hukumannya. Yang mengherankan, warganya pada patuh terhadap semua peraturan yang ada, jomplang sekali dengan keadaan di Jakarta yang jaraknya hanya sepelemparan batu [tapi pakai bantuan pesawat ya! XD] yang… ya sudahlah tidak harus saya elaborasi lagi...
Dari kawasan CBD, kami kembali lagi masuk ke stasiun MRT untuk melanjutkan perjalanan ke Merlion Statue yang cukup terkenal itu. Setelah beberapakali gonta-ganti MRT, saya mendapati masyarakat Singapura cukup ramah dan helpful kepada wisatawan seperti membantu menukar uang dengan tiket, menjelaskan detail kegunaannya, bahkan info tentang tourism spots yang wajib dikunjungi namun jarang diekspose di media mainstream, realitas yang lagi-lagi berbeda dengan keadan masyarakat kita, khususnya di kawasan Jakarta yang, maunya foto bareng, cuma buat dipajang di sosial media biar banyak yang komentar. Sempat terpikir di benak saya, jangan-jangan pemerintah dan masyarakat Singapura berkonspirasi untuk menjamu pengunjung dengan secara terstruktur dan massive [*Salah Fokus*]
China Town - Singapore
“Tak ada akar rotan pun jadi”… eh bukan, “tak ada gading yang tak retak” maksudnya, cerita tentang Singapura memang tidak melulu tentang cerita indah penuh warna seperti di iklan Uniquely Singapore di tivi-tivi itu, ada saja cerita kurang menyenangkan, seperti tidak adanya suara adzan [atau mungkin karena kami keasikan jalan-jalan? :p ] sehingga menyulitkan kami untuk menentukan waktu sholat maupun masjid yang sukar kami temukan selama berada di sana sehingga [lagi-lagi] menyulitkan kami untuk menunaikan ibadah sholat.
Hal kedua yang cukup mengganggu adalah mengenai makanan halal. Paham bahwa di berbagai food stall dan hawker cukup banyak menyediakan masakan halal, namun kebanyakan justru masakan asia selatan yang aromanya membuat kami menyesal karena tidak membawa obat anti mabuk dari Jakarta, sekali lihat makanan yang menggugah selera, malah tidak halal karena berlumur minyak babi yang bikin lapar tujuh turunan, atau kalau tidak, ya mahal! Personal matter and preference sih ya, tapi…
Hal terakhir yang membuat saya pribadi harus geleng-geleng kepala adalah Sex Store yang menjual aneka alat bantu seksual di kawasan Bugis. Sebagai Muslim yang menghabiskan sebagian besar waktu di lingkungan religius, hal seperti itu tentu merupakan hal baru dalam kehidupan kami bertiga. Mendapati beberapa barang anyar yang kelak saya kenal dengan istilah Vibrator di etalase, Pecut yang saya yakini tidak akan banyak membantu jika digunakan untuk Karapan Sapi, serta aneka jenis Dildo beragam warna dan ukuran bergelantungan di dinding dan atap ruangan, membuat kami bergumam “Ya Alloh!” sambil tersenyum simpul satu sama lain. “Beli gak ya kita?” celetuk salah satu diantara kami. [ ;p ]. Masih terkait dengan poin ketiga ini adalah, begitu mudahnya kami mendapati pasangan yang bercium*n di ruangan publik, tingkah yang membuat kami selalu beristighfar, memalingkan pandangan, yah, meski sesekali tetap kami intip [:”>] maklum, barang langka. Hehehe.
Dan perjalanan dua hari tersebut, menyisakan kesan mendalam dalam diri saya, bukan hanya tentang negara baru yang saya datangi, masyarakatnya yang saya kenal, serta kebudayaannya yang saya pelajari, lebih dari itu, saya menyadari bahwa menjadi minoritas itu bukan perkara mudah dan kita tidak akan pernah tau betapa susahnya menjadi minoritas sebelum kita mengalami dan merasakannya sendiri. Sebagai Muslim, di Indonesia saya merasa sangat dimanja; sholat tinggal menunggu adzan, masjid tersebar di setiap kelurahan, komplek, pelosok gang kecil, yang bahkan jaraknya hanya beberapa meter saja, makanan halal, hampir semua tempat makan entah di mall maupun emperan halal, dan sex store maupun tempat mesum, masih bermain petak umpet dengan ormas setempat.

Dan kini, saya sudah tidak sabar untuk memulai perjalanan baru lagi, mengunjungi tempat baru yang jaraknya ribuan mill, berkenalan dengan masyarakatnya, dan mempelajari kebudayaannya.

*Tulisan ini diikut sertakan dalam "Kompetisi Blog 10 Tahun AirAsia Indonesia"

Sabtu, 19 Juli 2014

Transformers 4 : A Transformation of Local Culture and Customs

It’s been 1.50AM, and I just got back from Central Jakarta for a farewell party with my SUSI chums since Odit, one of our besties in the gang will come back to New York for working at the United Nations Headquarter shortly. Yup, don’t be envious he is really deserved with all the things he has gained though.
Anyway, let’s just go straight. The story starts when I was just about to leave the party and suddenly I got a message, an “invitation” to watch a movie at theater around Jakarta shopping belt area which was expected to be the first Indonesia’s orchard, just like one in Singapore [drama queen :p] As I was always declare that I am a movieslicius, and fortunately I just got a couple of bucks from my freelance work, I finally confirmed. The movie we have watched was Transformers and it was so special since it was my very first time watching a movie on 3D. lol.
Just like another Hollywood movies, the movie is tots great. The sound effect, cinematography, super smooth sequences, and of course the visual effect are awesome! Besides, the producer really gives a damn on character aspect of all actors. Things we could hardly find on our local films. However, I also noticed some stuffs that really interesting to be discussed with my film mate. What are those? Let’s scroll down.
First, we all know that bunches of Hollywood movies, sometimes underestimated local people that can be identified by hick, stingy, and uneducated people such what we can find on Sex and the City 2. And sort of things can be found on Transformers when a woman police in Hongkong is bargaining with a man to get his motorcycle in a cheaper price. It may seems like a joke, but when we take a look on how people see Chinese would fight for a penny, the movie would be ended up with different story. Can I say that it’s kind of racist? Well, I don’t know!
Second, we all know that China’s economy was growing fast in the past decades. So many rich people are coming from the country that can easily buy super branded stuffs kind of Luis Vuitton, Prada, Hermes, etc. And this reality was shown on the movie. But turns out, this reality tends to have two different interpretations. In one hand, it shows exactly the impact of their massive economic development to the people, while in another hand, the movie wants to show strike it rich people’s behavior that sometimes act plebeian and tacky as it shown on the movie.
Third, I also noticed that, the movie criticized Chinese product. We may all considering that most of imported products all around the world, are imported from the country. And because of those things, some anecdotes came up such as “God only created the world, and the rest is China” or “China can duplicate anything we want with a cheaper price”. And what makes me laugh when I watch the movie is, when one of robot [I don’t really remember who exactly the name is] said, “I hate imitation products!” since Optimus was duplicated to fight him back. The fight also shows that the imitation brittle and fragile since Optimus and the gang can easily conquer them. Exactly the same like China’s second stuffs. Too much chins inside and fragile.

Nevertheless, Transfomers 4 is damn great! Superb and worth every penny to watch… ^_^

Sabtu, 14 September 2013

Terror Horror di Russia


Kawasan Kremlin
“Mafia Russia terkenal rasis, suka mengancam, bahkan tidak segan-segan membunuh orang yang tidak disukai di tempat umum”, kisah seorang teman yang telah tinggal di Moscow, saat saya dan beberapa teman dari Jakarta baru sampai di kota tersebut, “namun yang lebih mengerikan dan paling tidak manusiawi adalah, mereka, lebih suka membuat korbannya cacat seumur hidup”, lanjutnya.
Mendadak bulu kuduk saya merinding. Membayangkan apa yang akan terjadi pada kami jika sampai berurusan dengan mereka. Melempar pandangan ke jalanan di sekitaran jembatan tak jauh dari Gorky Park, dan menemukan banyaknya botol Vodka berserakan serta udara yang menyentuh 15°cc, menambah aroma mengerikan tempat yang sejatinya indah tersebut. Alhasil, saya dan teman-teman lain, memilih untuk segera kembali ke Hostel.
Cerita tentang kriminalitas yang mengerikan di Moscow nyatanya belum berakhir juga. Saat sampai di Hostel, sesaat setelah saya mandi dan menunaikan sholat Isya, beberapa teman dari China yang kebetulan tinggal di tempat yang sama, bercerita bahwa sebelum kembali ke Hostel, mereka bertemu dengan mafia Russia yang terlihat tengah menodong seorang turis di sebuah taman kota, seakan menguatkan cerita teman saya sebelumnya dan membuat saya semakin tertarik untuk meninggalkan Moscow sesegera mungkin.
salah satu taman di Moscow

Esoknya, menjelang siang, saya dan beberapa teman memutuskan untuk pergi ke Izmailovsky Market, sebuah pasar tradisional yang menjual beragam souvenir khas Russia seperti Matryoshka, gantungan kunci, barang-barang militer sisa perang dingin dengan harga miring, untuk dibawa ke Indonesia. Cuaca yang cerah dengan udara yang berkisar 30°cc, cukup mengurangi aroma horror di Moscow. Namun sayang, suasana tersebut juga tidak berlangsung lama.
Selama dua jam menjelajah pasar tersebut, mata saya tergoda oleh sebuah tas antik peninggalan militer Russia. Melihat modelnya yang bagus serta tagline 1941 sebagai tanda tahun produksi barang, membuat saya langsung jatuh hati dan tanpa banyak congcong, langsung saya beli dan saya pakai saat itu juga, hingga tak terasa, jam sudah menunjukkan angka 14.00, lalu saya memutuskan untuk makan siang di sebuah Food Stall yang masih satu komplek dengan Izmailovsky, dan memilih ayam bakar yang aromanya tercium kemana-mana serta roti khas Russia yang entah apa namanya, saya tidak banyak tanya karena terlalu sibuk dengan tas baru saya. 
Salah Satu Sudut Kremlin

Saat makan sambil lalu mengecek tas kesayangan tersebut, tiba-tiba seorang nenek berumur sekitar 80 tahunan, berkostum khas orang Russia jaman dulu, datang kepada saya dan berucap beberapa patah kata sembari tersenyum. Kontan saya dan teman-teman saya yang lain hanya saling pandang satu sama lain karena tidak mengerti bahasa Russia.
Melihat kami yang kebingungan, teman saya yang sudah dua tahun tinggal di Moscow itu akhirnya menjelaskan pada kami, bahwa memandangi saya, nenek tersebut jadi teringat pada salah satu tentara Russia yang telah meninggal empat puluh tahun lalu, yang meninggal karena dibunuh. Saya dan teman-teman lain saling adu pandang, sebelum akhirnya pandangan kami tertuju pada tas yang baru saja saya beli.
St. Basil

Pikiran liar saya jadi tidak terkontrol. Jangan-jangan, pemilik orang tas yang saya pakai itu adalah tentara yang mati dibunuh itu. jangan-jangan arwahnya masih gentayangan. Jangan-jangan, apa yang dilihat nenek tadi, adalah jelmaan dari arwah tentara malang tersebut. Jangan-jangan tas tersebut ada penunggunya. Dan prasangka-prasangka tersebut semakin membuat kami ketakutan bahkan masuk pada kategori paranoid saat kami semua mendapati kondisi tubuh saya yang sangat Asian dan jelas-jelas berbeda dengan orang Russia kebanyakan yang European. Dan jadilah penjelajahan kami di Moscow di pertengahan tahun 2012 itu, syarat dengan kisah horror dan terror. Berkunjung ke St. Basil serta Kremlin yang menjadi menu wajib, tak mampu mencairkan suasana  hati saya.
Namun semua kisah horror dan terror tersebut akhirnya terbayar saat kami memilih untuk mengunjungi kota St. Petersburgh yang sangat cantik, syarat bangunan kuno dengan arsitektur eropa klasik seperti Petropalovskaya Castel di pulau Zayachi yang dibangun sejak tahun 1703, Blue Mosque yang terletak tidak jauh dari pulau Zayachi, beragam museum seperti Hermitage yang super besar dan super lengkap yang tidak akan selesai dijelajahi hanya sehari serta gereja-gereja yang lebih dari sekedar Indah, seperti Gereja Savior. 
Savior

Gereja Savior sendiri merupakan salah satu gereja bersejarah yang telah dibangung sejak tahun 1881 oleh N. Benois dan A. Parland, dan berdiri megah tepat di samping kanal cantik yang membelah salah satu sudut kota St. Petersburgh. Ornament dinding yang dipenuhi dengan bulatan-bulatan yang nampak seperti kelereng besar, serta interior bangunan yang syarat warna, membuat saya tidak henti-hentinya berdecak kagum. “Cocok sekali untuk tempat bulan madu!”, seru saya dalam hati.
Blue Mosque

St. Petersburgh

Hari-hari berikutnya saya habiskan di sebuah perkampungan kecil di bagian kota Tver, tepatnya di sekitaran danau Seliger karena program Summer Camp yang saya ikuti dihelat di sana. Di desa tersebut, lagi-lagi saya harus berdecak kagum, bukan pada bangunannya, melainkan pada masyarakatnya yang, subhanallah, ramahnya kebangetan, bahkan mungkin lebih ramah ketimbang masyarakat di desa-desa di Indonesia yang pernah saya kunjungi.
Keramahan mereka semakin terasa saat suatu sore, saya dan dua teman saya berkunjung ke sebuah pasar tradisional, dan bertemu dengan masyarakat lokal. Meski tidak ada satupun dari mereka yang mampu berbahasa Inggris, namun sikap hangat yang mereka tunjukkan serta senyum tulus yang disunggingkan, cukup menggambarkan betapa masyarakat di desa tersebut sangat terbuka dan ramah pada pendatang seperti saya. sempat beberapakali saya diajak berfoto, baik oleh pengunjung, maupun penjual buah Cherry yang tengah duduk manis di lapaknya, dan sebagai gantinya, kami diberi Cherry segar dengan gratis.
Dan sejak saat itu, kesan horror berubah menjadi kesan homey, sementara terror, tetap terasa hingga sekarang, namun dalam konteks yang berbeda, yakni terror untuk pergi kesana lagi dan lagi. Dan tentu saja, suatu hari nanti, saya akan pergi kesana lagi. Insyaallah

About Me

Foto Saya
Care Calm n' Comfortable

Pembaca Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Translate

Follow us on FaceBook

 

© 2013 wellcome to saxera's zone. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top